Dampak Red Tide Bagi Biota Laut Beserta Faktornya Lengkap

2 min read

Dampak Red Tide Bagi Biota Laut Beserta Faktornya

Dampak Red Tide Bagi Biota Laut – Red tide merupakan kejadian yang terjadi secara alami pada air laut yang mengalami perubahan pada warna airnya yaitu menjadi hijau, coklat, biru, atau pun merah yang disebabkan oleh peningkatan drastis populasi fitoplankton.

Dampak Red Tide Bagi Biota Laut Beserta Faktornya

Fitoplankton merupakan suatu organisme mikroskopis yang pergerakannya di pengaruhi oleh arus. Biasanya red tide ini terjadi antara bulan agustus sampai februari di pantai dengan perairan hangat. Secara umum fenomena red tide ini biasanya terjadi kira-kira setiap lima tahun sekali sesuai dengan siklus badai yang terjadi di laut. Air laut berubah menjadi merah karena ganggang mikroskopik berkembang biak secara massal sehingga menutupi permukaan air laut. Kemudian pada malam hari biasanya warna lautan itu bisa berubah menjadi biru terang.

Walaupun fenomena red tide sangat indah dan menawan, tetapi nyatanya fenomena tersebut dapat membunuh banyak biota laut, merubah struktur komunitas ekosistem perairan, dan juga bisa menyebabkan kematian pada manusia. Lebih dari 100 ton ikan dan biota laut mati karena racun yang dikeluarkan fitoplankton (ganggang mikroskopik) yang menutupi lautan itu.

Salah satu faktor utama yang mempengaruhi fenomena red tide yaitu

– Suhu permukaan laut yang hangat,
– Salinita s rendah
– Kandungan gizi yang tinggi,
– Dan laut yang tenang.

Selain itu, fitoplankton tersebut dapat menyebar dengan jauh karena pengaruh angin, arus, dan badai. Badai ini mengubah sistem pergerakan air laut yang mengakibatkan bertumpuknya plankton di lautan tertentu. penyebab warna air laut kebiruan dan kehijauan dipengaruhi oleh populasi fitoplankton.

Baca Juga :   Contoh Tumbuhan Bioma Perairan

Dampak Red Tide

Beberapa dampak yang dapat ditimbulkan akibat terjadinya red tide, sebagai berikut :

1. Perubahan warna dan konsentrasi air secara drastis,
2. Kematian massal biota laut,
3. Perubahan struktur komunitas ekosistem perairan,
4. Keracunan dan kematian pada manusia.

Menurut start1.org, red tide yang disebabkan oleh mikro alga, Karenia brevis dapat membunuh sejumlah besar ikan dan biota lainnya termasuk lumba-lumba dan manatees dan dapat menyebabkan kerang beracun yang dikonsumsi manusia. K. brevis menghasilkan racun udara yang dapat menyebabkan iritasi pernapasan.

Ledakan populasi fitoplankton dapat menutupi permukaan perairan, sehingga selain menyebabkan deplesi oksigen, juga dapat menyebabkan gangguan fungsi mekanik maupun kimiawi pada insang ikan. Hal tersebut dapat mengakibatkan kematian massal pada ikan (Adnan, 1994; Hallegraeff, 1991 pada Mulyani, 2011).

Hal – Hal yang Menyebabkan Terjadinya Red Tide

Berikut ini adalah penyebab terjadinya red tide, antara lain :

– Pengayaan unsur hara di dasar laut /eutrofikasi.
– Perubahan hidro-meteorologi dalam skala besar.
– Terjadi gejala upwelling yaitu pengangkatan massa air yang kaya akan unsur hara ke permukaan.
– Akibat hujan dan masuknya air tawar ke laut dalam jumlah besar.

Red tide yang biasanya terjadi di perairan pesisir pantai atau muara sungai sangat terkait dengan eutrofikasi atau pengayaan unsur hara di dasar laut.
Selain itu, perubahan hidro-meteorologi dalam skala besar, suhu permukaan laut yang hangat, salinitas rendah, terjadinya upwelling atau pengangkatan massa air yang kaya unsur hara ke permukaan laut diiringi dengan terjadinya hujan dan masuknya air tawar ke laut dalam jumlah yang besar juga mempengaruhi kualitas perairan dan memicu terjadinya algal bloom.

Kasus-Kasus Red Tide di Indonesia

  1. Pada Tahun 1983 di Flores, terjadi kematian massal ikan dan kasus keracunan akibat HAB
  2. Pada Agustus 1987 di Ujung Pandang yang disebabkan oleh fitoplankton jenis Pyrodinium bahamense.
  3. Pada Januari 1988 di Kalimantan Timur pada bulan Januari 1988. Kasus keracunan ini diduga disebabkan oleh fitoplankton dengan jenis Pyrodinium bahamense. Jenis ini dapat menghasilkan racun saxitosin yang bisa menyebabkan penyakit Paralytic Shellfish Poisoning (PSP) pada manusia dan juga hewan (Adnan 1990).
  4. Pada 31 Juli 1986 di Jakarta. Kejadian ini tampak pada beberapa ikan yang mati mengapung di atas air laut yang pada mulanya banyak beranggapan hal ini disebabkan oleh pembuangan bahan kimia dan limbah ke laut. Kemungkinan perairan di teluk Jakarta sudah mengalami eutrofikasi yang menjadi faktot utama terjadinya HAB (Sutomo, 1993).
  5. Pada Maret 1994 di Teluk Kao yang disebabkan oleh spesies Pyrodinium bahamense var. compressum dan tidak menimbulkan korban jiwa (Cyecilia, 2011).
  6. Pada Juli 1994 di Teluk Ambon oleh spesies Pyrodinium bahamense var. compressum , memakan korban jiwa 3 orang sedangkan 33 orang harus dirawat di rumah sakit.
Baca Juga :   4 Ciri-ciri Ekosistem Air Tawar Beserta Penjelasannya

Kasus-Kasus Red Tide di Dunia

  1. Pada tahun 2013 red tide yang terjadi di pantai Florida menyebabkan Manate terdampar dipantai saat mereka ingin bermigrasi ke Teluk Meksiko. Mamalia tersebut mati karna memakan lamun yang berada di perairan yang mengalami blooming alga berbahaya.
  2. Pada tahun 2004 sekitar 100 lumba lumba yang ditemukan mati di daerah yang sama. Para ilmuwan melakukan pemeriksaan terhadap perut lumba lumba tersebut dan menemukan ikan yang telah mengalami kontaminasi oleh alga beracun (nbcnews, 2014).

Pencegahan terjadinya RED TIDE

Ada beberapa cara untuk mencegah terjadinya red tide seperti manajemen nutrisi yang mengatur buangan dari darat ke perairan, melakukan penelitian mengenai teknologi yang dapat mengurangi red tide, pengendalian dampak red tide dapat dilakukan dengan pendektesian red tide serta sosialisai terhadap publik mengenai dampaknya. Menurut Alcocktahun 2007 red tide dapat dicegah seiring dengan pelaksanaan pengurangan pemanasan global.

Baca juga: