Adaptasi Tumbuhan Mangrove Pada Lingkungan Salin Dan Jenuh

3 min read

Adaptasi Tumbuhan Mangrove Pada Lingkungan Salin Dan Jenuh

Adaptasi tumbuhan mangrove pada lingkungan salin dan jenuh – hutan mangrove adalah formasi hutan dengan tumbuh dan berkembang pada daerah landau muara sungai serta pesisir pantai yang berpengaruh oleh pasang surut air laut. Berikut ini akan kami bagikan informasi mengenai Adaptasi tumbuhan mangrove pada lingkungan salin dan jenuh.

Adaptasi Tumbuhan Mangrove Pada Lingkungan Salin Dan Jenuh

Dikarenakan kawasan hutan mangrove ini dengan rutin selalu digenangi oleh pasag air laut, maka lingkungan (air dan tanah) hutan mangrove sifatnya salin serta tanahnya jenuh air. Vegetasi yang hidup pada lingkungan salin, baik lingkungannya kering atau basah dikenal dengan nama halopita (halophytic).

Macam Macam Adaptasi Mangrove

Pada dasarnya ciri khas ekosistem mangrove sendiri berhubungan dengan kondisi tanah, salinitas, pasang surut, penggenangan, serta kandungan oksigen tanah. Adapun adaptasi tumbuhan mangrove pada habitat ini terlihat pada fisiologi serta komposisi struktur tumbuhan mangrove.
Sejumlah tumbuhan yang memiliki adaptasi anatomi serta fisiologi yang berkembang guna berlangsungnya hidup. Untuk tumbuhan halofita, misalnya mangrove ini penting untuk meningkatkan pertumbuhan terbaiknya dibawah kondisi salin.

Adaptasi Mangrove dalam Merespon Kondisi Ekstrim

Vegetasi mangrove mempunyai adaptasi anatomi di dalam merespon beragam keadaan ekstrim di tempat tumbuhnya, misalnya :

  1. Adanya kelenjar garam di kelompok secreter dan kulit mengelupas di kelompok non secreter menjadi tanggapan dari lingkungan yang salin
  2. Sistem perakaran yang khas serta lentisel menjadi tanggapan pada radiasi sinar matahari serta suhu yang tinggi
  3. Struktur serta posisi daun yang khas menjadi tanggapan pada radiasi sinar matahari serta suhu yang tinggi.

Sejumlah jenis tumbuhan mangrove toleran pada konsentrasi garam di jaringan. Kemudian garam tersebut dikeluarkan lewat sejumlah kelenjar khusus yang ada di daunnya.

Halopita adalah tumbuhan dengan mekanisme pengeluaran garamnya cenderung kurang kuat di sistem akar, sehingga kerap mempunyai sebuah proses desalinasi di parenkim daun lewat pengeluaran aktif. Secara umum pengeluaran garam dengan jumlahh kecil saja sudah bisa memperbesar kelangsugan hidup terhadap sejumlah tumbuh-tumbuhan yang keberadaannya stress terhadap garam.

Sementara untuk jenis mangrove non-secret akan kehilangan garam saat daun maupun bagian tumbuhan lain gugut. Menurut pengamatan, sejumlag mangrove non-secreter mempunyai kulit luar yang mati dengan jauh lebih tebal daripada jenis mangrove yang mempunyai kulit luar yang mati jauh lebih tebal daripada jenis mangrove yang mempunyai kelenjar garam.

Adaptasi tumbuhan mangrove pada kondisi tanah dan kekurangan oksigen

Adaptasi tumbuhan mangrove dengan alami pada kondisi tanah serta kekurangan oksigen ialah lewat sistem perakaran yang khas serta lentisel di akar nafas, batang serta organ lain. Ada 3 bentuk sistem perakaran di tumbuhan mangrove, yakni :

  1. Akar lutur (knee roots)
    Contohnya : bruguiera spp, dengan memberikan kesempatan untuk oksigen masuk di sistem perakaran.
  2. Akar nafas (pneumatophore roots)
    Contohnya : sonneratia spp dan avicennia spp dengan muncul pada permukaan tanah guna aerasi
  3. Akar tunjang (stilt roots)
    Contohnya : rhizhopora spp dengan bentuk jangkar untuk menopang pohon.

Sistem Akar Tumbuhan Mangrove

Pada dasarnya, sistem akar tumbuhan mangrove terdiri atas 3 komponen, yakni :

  1. Komponen aerasi, yakni bagian akar dengan mencuat di bagian atas terhadap sistem perakaran serta fungsinya menjadi pertukaran gas
  2. Komponen penyerapan dan penjangkaran, fungsinya untuk membentuk basisi penjangkaran di semua sistem serta untuk menjalankan penyerapan zat hara
  3. Komponen jaringan, yakni bagian horizontal dengan meluas serta fungsinya menyatu dengan penyerapan serta penjangkaran terhadap sistem perakaran.

Mangrove menjadi kelompok khusus terhadap halofia dengan kapasitas penahan air tinggi terhadap substrat beragam. Mangrove pun bisa mempertahankan keseimbangan air yang baik sebab adanya mekanisme pengaturan yang beragam.

Scholander et al. (1962) di dalam tombinson menyatakan bahwa secara umum transpirasi sejumlah jenis mangrove ini rendah, sementara akarnya secara terus menerus mengabsorsi air garam. Hal tersebut mengakibatkan akumulasi garam dalam daun. Untuk mengatasi hal tersebut sejumlah jenis mangrove memiliki kelenjar pengeluaran garam di daunnya, sementara untuk jenis mangrove yang tak mempunyai kelenjar pengeluaran garam akan dijalankan dengan mengalirkan garam itu ke dalam daun-daun muda baru terbentuk.

Vegetasi mangrove ialah tumbuhan resisten pada garam (salt-resistant plants) dapat memilihara pertumbuhannya dalam keadaan cekaman osmotic, kerap menghindari konsentrasi tinggi dalam sitoplasmanya. Pertumbuhan khusus dipelihara dengan cara meningkatkan jumlah larutan dalam sel serta selanjutnya dipelihara dengan cara meningkatkan jumlah larutan dalam sel kemudian dengan pengatura turgor. Mekanisme tersebut bisa meningkatkan terhadap peningkatan plastisitas dinding sel serta penurunan ambang turgor. Penurunan turgoe diatur dengan “sensor turgor” dalam plasma membrane.

Mekanisme Penting Pada Pengaturan Keseimbangan Garam pada Mangrove

Mekanisme penting dalam pengaturan untuk keseimbangan garam di mangrove, jadi tidak akan lagi meracuni tumbuhan lagi. Diantaranya :

  1. Kapasitas akar guna melawan NaCI berbeda
  2. Pemilihan kelenjar kelanjar khas sekresi garam terhadap sejumlah jenis daun
  3. Akumulasi garam dalam beragam bagian tumbuhan
  4. Hilangnya garam saat daun serta bagian tumbuhan lain gugur

Tanah jenuh air merupakan tanah mengandung sedikit oksigen yang direspon tumbuhan mangrove dengan mempunyai sistem perakaran khas serta lentisel dibagian atas permukaan substrat jadi memungkinkan penyerapan oksigen terhadap udara. Selain tersebut, keberadaan sejumlah lubang tanah dibuat satwa tanah.

Jadi, daun vegetasi mangrove yang mempunyai kutikula yang tebal, stomata dan lapisan lilin yang tersembunyi maupun pengaturan posisi daun mengakibatkan radiasi matahari akan terseleksi sepanjang permukaan fotosintesik luas, sedangkan pemasukan panar perunit luas daun serta suhu berkurang. Hal tersebutlah menjadi adaptasi anatomi unik terhadap daun mengrove dalam mengatasi suhu yang tinggi dan cekaman radiasi sinar matahari. Semoga pengetahuan tentang Adaptasi tumbuhan mangrove pada lingkungan salin dan jenuh bermanfaat bagi kalian.

Baca juga: